Label

Sabtu, 11 Maret 2017

Membanggakan, Pelajar Indonesia Menelurkan Penemuan Baru Di Bidang Manufaktur

DEDIKASI: Agus (kiri) bersama koleganya.
JawaPos.com - Salah seorang pelajar Indonesia di Estonia, Agus Pramono mempunyai temuan baru. Namanya adalah Metode Repetitive Press-Roll Bonding (RPRF) yang bisa diaplikasikan untuk industri manufaktur dalam bidang alutsista, otomotif, dirgantara, dan banyak lagi. ’’Ini adalah riset disertasi saya di sini. Karena ini tergolong temuan baru, saya mendapatkan stipendium voucher 1000 Euro,’’ papar laki-laki 40 tahun asal Kediri, Jawa Timur tersebut.
Agus yang juga merupakan Dosen Teknik Metalurgi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten tersebut menjelaskan, metode RPRF tersebut adalan metode terbaru terknologi severe plastic deformation yang ke-10. Setelah metode accumulative continuous extrusion dari Shenyang Tiongkok (2015), dan Accumulative Press Bonding (2014) dari United Kingdom.
Agus yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Institute Mechanical & Materials Engineering Tallinn University of Technology Estonia tersebut awalnya memilih topik penelitian tersebut karena ide pembimbingnya. ’’Pembimbing saya ingin metode proses pembentukan logam mampu menghasilkan bahan yang ringan dengan kekuatan tinggi. Maka gabungan gaya tekan dan roll mampu membentuk material menjadi lebih ringan dengan kekuatan yang tinggi,’’ ucap mantan ketua PPI Estonia yang juga merupakan Rois Aam Dewan Syuro pengurus cabang Internasional NU federasi Russia dan Eropa utara tersebut.
Untungnya, dalam proses riset tidak ada kendala yang berarti. Semua fasilitas dan biaya ditanggung dan dipersiapkan oleh kampusnya yang didanai oleh Kementrian Riset Estonia. Pun dengan akses jurnal yang sangat mudah didapat. ’’Mungkin selama proses riset kendala non-teknis itu saat winter tiba. Cuaca dingin ekstrim bisa sampai minus 30 derajat celcius, jadi menghambat mobilitas,’’ ujar suami dari Anistasia Milandia tersebut.
Dengan hadirnya metode RPRF diharapkan industri manufaktur khususnya di Indonesia bisa menjadikan standarisasi proses pengerjaan logam dan komposit untuk menghasilkan tahapan proses yang efektif dan efisien. ’’Semoga bisa diterapkan untuk standart system manufaktur pengerjaan logam di Indonesia,’’ tambahnya.
Studinya telah usai, saatnya Agus kembali ke Indonesia untuk mengajar ilmu yang didapatkannya. Walau pasti dia akan merindukan masa-masa belajar di Estonia. Voucher stipendium 1000 euro yang didapatkannya dari Minister Education of Estonia karena berhasil menemukan metode RPRF tersebut digunakan untuk mentraktir pembimbimnya. ’’Juga sekalian untuk saving money, hehe,’’ paparnya. Menurut Agus, yang paling akan dirindukannya selama masa study adalah suasana KBRI Finlandia yang menjadi pelariannya bila kangen masakan Indonesia. ’’Tentunya juga teman-teman di Estonia yang terbuka dan toleran dengan segala macam hal,’’ ucapnya. (ina/tia)

(Sumber:Jawapos.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar